You are browsing the archive for Wisata.

by admin

Banten Lama, Tak Sekedar Wisata Ziarah

11:29 pm in Komunitas, Sejarah, Wisata by admin

banten lama

Sisa reruntuhan Keraton Surosowan hingga kini masih bisa dinikmati, seperti terlihat pada Kamis (8/5). Keraton seluas lebih kurang 3,5 hektar itu merupakan kediaman para sultan Banten yang dibangun dari tumpukan batu karang dan batu bata merah pada 1552.

Ribuan manusia di Kompleks Masjid Agung Banten Lama menjadi pemandangan yang biasa terlihat pada setiap hari-hari besar agama Islam. Kompleks peninggalan Kesultanan Islam Banten memang lebih dikenal sebagai tempat berziarah.

Padahal, Banten Lama menyimpan banyak cerita sejarah, tak sekadar tempat wisata ziarah.

Memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, sepintas terasa terbawa ke cerita masa lalu. Masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi.

Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi di sebelah kiri jalan masuk. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan.

Melaju beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687.

Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah.

Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam.

Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri.

Di bagian belakang atau di sisi selatan, terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Dahulu, kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan, yang disebut Pancuran Mas.

Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi, sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat.

Sebelum masuk keraton, air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Mas.

Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu,Kabupaten Serang, yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Sementara itu, tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala, antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi. Sayangnya, sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan.

Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. Tempat itu disebut ruang Pasepen, yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah.

Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda.

Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. Ketika itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda.

Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ”Situs Keraton Kaibon”, dengan luas sekitar 2 hektar. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun.

Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante, yang terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air.

Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu.

Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

Wihara Avalokitesvara

Bukan hanya bangunan masjid, Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan wihara Buddha atau klenteng China. Disebelah barat daya Surosowan berdiri Wihara Avalokitesvara, yang dibangun pada 1652.

Bangunan wihara ini merupakan peninggalan Sultan Syarief Hidayatullah, yang menikahi seorang putri China saat sang putri bertandang ke Pelabuhan Banten. Wihara dibangun sebagai tempat peribadatan para pengikut putri China, yang kemudian tinggal di Banten Lama.

Saat ini, Wihara Alokitesvara merupakan salah satu wihara tertua di Indonesia, yang kerap dibanjiri peziarah karena terdapat altar Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im dipercaya sebagai dewi yang penuh welas asih, yang diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Selain itu, di dalam wihara juga terdapat 15 altar, seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.

Setiap tahun wihara di Kampung Kasunyatan, Desa Banten, ini selalu dipadati puluhan ribu pemeluk Buddha dari banyak daerah di Indonesia, Belanda, Jerman, dan Thailand. Mereka datang, terutama, pada peringatan Lak Gwe Cap Kau, saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.

Terlepas dari itu, berdirinya wihara di kompleks kerajaan Islam bisa menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragamapada masa itu. Warga yang berbeda agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di kota tua tersebut.

Untuk melihat dengan jelas sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten, Museum Kepurbakalaan Banten Lama bisa menjadi tujuan kunjungan.

Gambar peta dunia yang dibuat dengan tulisan tangan juga terpampang di sana. Demikian pula gambar Kiayi Ngabehi Wirapraja dan Kiayi Abi Yahya Sandara, dua Duta Besar Kesultanan Banten untuk Inggris. Itu menunjukkan majunya pemikiran para sultan karena mengerti pentingnya diplomasi.

Koleksi mata uang dan pecahan keramik dari sejumlah negara juga disimpan di museum tersebut. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Banten memiliki bandar besar, tempat persinggahan dan transaksi perdagangan internasional. Bandar Banten dikunjungi para pedagang dari Gujarat (India), China, Melayu, Persia, dan Eropa.

Tidak perlu biaya mahal untuk menikmati sisa keindahan dan cerita kejayaan Kesultanan Islam Banten. Cukup membayar Rp 1.000, pengunjung sudah dapat mengantongi tiket untuk menjelajahi museum seluas 1.000 meter persegi.

  • Share/Bookmark

by admin

Wisata Pantai Banten

1:29 am in Alam, Wisata by admin

Wisata Pantai Banten

Wisata Pantai Banten

Banten memiliki sejumlah obyek wisata yang menarik khususnya wisata pantai baik pantai Carita maupun pantai Anyer. Setiap libur panjang pantai pantai tersebut selalu dipenuhi pengunjung yang berasal dari berbagai daerah. Pantai-pantai tersebut ada yang dikelola oleh manajemen hotel-hotel dan ada pula yang dikelola oleh pemerintah daerah.

Pantai Carita dan pantai Anyer merupakan kawasan wisata yang menyediakan beragam keindahan mulai dan pantainya sampai pemandangan alam pegunungan, dan hutan yang terdapat di sekitar pantai. Tak heran jika kedua pantai ini kerap dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan lokal  maupun wisatawan asing.

Di sini para turis bisa melakukan banyak kegiatan seperti bermain jetski, banana boat, selancar, berenang di laut, memancing, main voli pantai, berperahu sambil mendengarkan deburan ombak dan menikmati hembusan angin taut. Pemandangan di pantai memang amat indah dan menarik apalagi kalau matahari terbenam dengan pemandangan gunung Anak Krakatau di kejauhan.

Di kawasan Carita, selain pantai kita juga dapat menikmati curug (air terjun) Gendang dengan tinggi 7 meter yang berada di taman wisata alam Perum Perhutani Carita. Menurut penjaganya gemuruh suara air terjun ini terdengar mirip dengan suara gendang/tambur. Selain curug Gendang, di kawasan Carita terdapat objek wisata yang lain yaitu sumber air panas Batu Kuwung dan pelelangan ikan hasil para nelayan melaut.

Di kawasan Anyer kita dapat menyaksikan menara tua yang disebut Mercusuar Anyer. Jika kita berdiri di puncak menara, panorama pantai Anyer yang mempesona dengan keindahan gunung Anak Krakatau dan daratan pulau Sumatra yang berada di sebelah barat menara serta beberapa pulau kecil di sekitar selat Sunda bisa dinikmati. Pemandangan di sini lebih spektakuler lagi jika dinikmati ketika menjelang matahari terbenam.

Mercu suar Anyer ini berlokasi di pinggir jalan Raya Anyer, desa Cikoneng, kecamatan Anyer, kabupaten Serang, Banten. Bangunan ini tingginya 75.5 meter. Di tepi menara terdapat deretan lampu mengelilingi ujung menara. Cahaya lampu-lampu itu memberi tanda sebagai pedoman bagi kapal yang melintasi selat Sunda.

Bangunan mercu suar ini terbuat dari baja setebal 2,5 cm yang dibangun tahun 1885. Menara tersebut terdiri dari 18 lantai dan setiap lantai dapat ditempuh melalui 18 anak tangga. Semakin ke atas anak tangganya semakin kecil.

Antara Carita dan Anyer kita dapat menyaksikan keindahan batu karang, yang diberi nama Karang Bolong yang berada di desa Karang Bolong, kecamatan Cinangka, Serang. Keunikan batu karang ini adalah terdapat lubang di bagian tengah. Di tepi pantai karang ini kita dapat bermain ombak dan mencari siput laut yang hidup disela-sela karang hitam.

  • Share/Bookmark

by admin

Sate Bandeng

7:54 pm in Kuliner, Wisata by admin

Sate Bandeng

Sate Bandeng

Sate Bandeng Makanan Khas Serang.Bila kita ingin mencoba masakan jenis ini Kita harus menuju kawasan kota Serang terletak di diujung barat dari propinsi Banten, sekitar 80 kilometer dari Jakarta atau hanya membutuhkan waktu antara 60 sampai 90 menit dari ibukota. Untuk menuju ke lokasi wisata, Anda bisa menggunakan jalan tol Jakarta – Merak, Jalan Kereta Api Jakarta – Merak, Kapal Laut Jakarta – Merak atau Lampung – Merak. Anda juga bisa lewat jalan Raya bukan tol.
Jika Anda ingin ber-weekend di Serang sambil menikmati masakan khasnya, maka Anda dijamin tidak akan kerepotan sebab di sana sudah tersedia berbagai fasilitas hotel, mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang lima, rumah makan, restauran dan fasilitas rekreasi seperti pantai yang nyaman, alam pegunungan yang alami dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ditambah lagi dengan tersedianya jajanan pasar yang banyak di sekitar pusat-pusat keamaian dan perbelanjaan “Royal” Serang. Jajanan pasar yang biasanya merebak pada bulan puasa, selalu ditandai dengan munculnya bermunculnya jajanan terkenal berupa Ketan Bintul, Jejorong, Cecuwer, Emping Ceplis, dan lain sebagainya. Sementara itu di kalangan masyarakat luas di kenal pula makanan tradisional seperti kue ongol-ongol, kue talam, kue Jendral Mabok, bubur Lolos, bubur Puser, Kolek Radio Selain itu juga terdapat makanan khas lainnya seperti rabeg Wedus, Sambel Burog/sambel kulit Geritul Dan untuk oleh-oleh, Anda bisa membeli buah-buahan segar diantaranya sawo yang banyak jumlahnya.

Read the rest of this entry →

  • Share/Bookmark

by admin

Kesenian Debus Banten

11:23 am in Budaya by admin

Sejarah Kesenian Debus

Debus merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam. Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Kedatangan kaum kolonialis ini di satu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata, yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang terdapat pada kesenian debus.

Bentuk Atraksi Debus

Permainan debus merupakan bentuk kesenian yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dzikir kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit. Acara selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian dzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Bersamaan dengan beluk, atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya : menusuk perut dengan gada, tombak atau senjata almadad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok; makan api; memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan anggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah; mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan mengusapnya; menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulitnya tetap utuh. Selain itu, juga ada atraksi menggoreng kerupuk atau telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki tangga yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas tumpukan kaca atau beling. Atraksi diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat-alat musik tetabuhan.

Tokoh Spiritual Debus

Salah satu tokoh spiritual debus asal Banten yang hendak dikemukakan dalam tulisan ini adalah Tubagus Barce Banten atau Abah Barce. Ia cukup dikenal di kalangan penduduk Banten sebagai pemimpin spiritual debus ‘modern’. Konon, ia sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit yang tak dapat disembuhkan dengan pengobatan kedokteran masa kini. Ia juga sering dipanggil sebagai penasihat pribadi masalah-masalah spiritual oleh kalangan elit politis Jakarta.

Abah Barce berperan penting dalam memperkenalkan kesenian debus hingga keluar negeri, seperti Amerika Serikat, Australia, Jerman, Jepang, Malaysia, Spanyol, dan Belanda. Ia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Amsterdam pada tahun 1985. Selain itu, ia adalah ketua Perkumpulan Paranormal Indonesia cabang Banten sejak Mei 2003, ketua Perkumpulan Judo-Karate-Silat Banten, dan pendiri Laskar Islam Banten pada tahun 1999.

Menurut Abah Barce, debus tidak ada kaitannya dengan dunia mistis atau magic, tidak seperti anggapan kebanyakan orang selama ini, karena magic itu sama dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Ia juga mengatakan bahwa debus digunakan oleh para alim ulama zaman dahulu untuk melawan penjajah.

Kesenian Debus Sebagai Potensi Wisata

Terlepas dari anggapan debus berkaitan erat dengan dunia mistis yang bertentangan dengan Islam, ajaran itu turut berperan dalam sejarah diciptakannya kesenian debus di Indonesia, serta pelaksanaan atraksinya yang dimulai dengan pembacaan doa maupun lantunan sholawat Nabi. Tak dapat disangkal, debus merupakan kesenian tradisional khas Banten yang dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi para wisatawan.
Jadi, mengapa tidak melestarikan dan mengembangkan kesenian debus, yang juga merupakan ciri khas kebudayaan Banten.
Daftar Pustaka

Gautama, Bayu, Dyah Kalsitorini, Mona Melinda. Muda Usia Kaya Pesona : Banten. Surga no.02, 25 Maret – 25 April 2004, Muharram 1425 H

  • Share/Bookmark

by admin

Nasi SumSum Puri Kian Digemari

1:07 pm in Kuliner by admin

Nasi Sum Sum

Cuaca di Kota Serang akhir-akhir ini sangat dingin. Hembusan angin kencang disertai hawa dingin membuat pengemudi kendaraan harus extra hati-hati. Kenapa? Karena cuaca seperti ini tidak baik untuk kesehatan. Apalagi si pengendara dalam keadaan perut kosong kroncong. Wah, bahaya itu! Tapi “don’t worry be happy”. Ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan perut kosong kalian. Obat?  Yang pasti ini sangat sepesial. Bahkan bisa ketagihan!

TURUN TEMURUN

Ayo,  saya ajak kalian ke tempat yang sangat akrab di telinga warga ibu kota Banten ini, yaitu Pasar Lama Kota Serang. Di pasar ini banyak tenda jajanan khas dari berbagai daerah dan salah satunya yakni nasi Sumsum Puri yang terkenal di Serang.

Read the rest of this entry →

  • Share/Bookmark